Aneka Puisi Kang Zaki

Seputar oase
 
Itu pasir menghampar tegar
Bertumpuk,diantara batu lapuk
Tetap memantulkan setiap kenangan
Matahari atau rembulan
Yang mungkin tak pernah peduli puji dan cacian
 
Dan itu rumput ilalang
Tak bisa lari dari setiap petang
Hanya diam bila dingin bertandang
Menunduk saat panas menjenguk
 
Tak bisa meniru elang
Yang tetap riang diatas setiap kematian
 
Ini aku,masih berputar
mencari musim yang datar
berbaring sebentar
sebelum jadi seperti kayu bakar
yang terkapar dalam rayuan tungku
yang mekar
201104
 
menggelinding
 
aku pernah mengerang
bermalam, bahkan berpuluh malam
dijalan, dikeramaian lalu lalang
dikamar, dalam terang dan samar
disetiap tempat, dimana dia pernah lewat
 
semua pojok dinding seperti terus berdering
oleh kerinduan yang kemudian mengering
jadi bagai pecahan piring
yang dilempar begitu riang olehnya
tanpa beban, walau seadanya
241104
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Solatku bisu
Takbirku sekedar dzohir
Sedang batinku masih jauh mangkir
Fatihahku hany terbaca latah
Seperti lantunan daun patah
Tertiup angin, tak tahu arah
 
Rukuku penuh ragu
Hanya membungkuk bisu
I’tidalkupun sering terpental
Terpantul pada dinding tebal
Dari keinginan yang terus membual
 
Sujudku terhalang penuh sekat
Tersimpuh sekedar syarat
Entah pasrah, entah khidmat
Entah singgah atau sekedar lewat
 
Diam dan bergerak
Terbaca sebatas kata
Teringat sebatas lewat
 
Kemudian tasyahud sedikit panjang
Kemudian salam
Kemudian kembali lengang
Lengang!!
 
1998 with editing
 
note
 
kulakukan apa yang bisa kulakukan
terus saja menulis
diatas tanah lapang penuh rerumputan
penggembala, para domba ceria
cemara, belalang tanpa nama
 
tak bisa terus berulang
pergi pulang, laut dan daratan
demi janji yang hilang
231104
 
 
 
 
 
 
 
 
ssst!
 
Ini daging, ini tulang
Ini rambut, ini kulit dan ini pakaian
 
Dimana tempat suka dan kesedihan
 
Semua berkumpul jadi menyatu
Jadi muka, tangan, kaki, punggung, dan bahu
 
Dimana diriku??
021204
 
trotoar
 
tak ada keajaiban yang bisa kupersembahkan
untuk orang2 tersayang
semuanya tergantung diawan angan saja
berpencar ditiap belahan bumi masa
 
tak bisa bergabung jadi mendung
yang menurunkan hujan permata
 
selain kata, tak ada yang bisa kutata
karena setiap puisipun hanya kuselipkan saja
ditepi jembatan malam
ditrotoar senja, tanpa lampu menyala
 
semoga pejalan yang singgah
membawanya pada yang Kuasa
231104
 
proses
 
biar wajahmu terluka, tak apa
matamu belum tertutup
oleh lebam pukulan para pendatang
atau sengatan pecundang
 
biar goresan yang ditinggalkan
terus memberi ingatan
agar jangan selalu terkalahkan
 
011204
 
 
 
 
 
 
peti mati
 
kenapa masih terus risau
bila memang keharusan itu
telah jadi, tertutup mati di peti
 
pada penyesalan
katakana saja, jangan bosan!
Pada kesalahan
Bisikan saja, tuliskan yang kau inginkan!
 
Biar hujan yang akan menghapuskan
Tinta warna yang tertumpahkan
011204
 
saat berdegup1
 
tak ada suara
hanya detak jam yang masih riang
detak jantung mengiring
melepas malam menyulam
serpihan kesadaran
pada benang panjang
yang melilitku di pembaringan
 
tak ada suara
hanya lampu setengah terang
dan pena yang tak bisa kutahan
merangkai keluhan
diatas putih buram
 
walau aku tahu
waktu bukan sekedar pemandu
pada kenangan di sebrang lautan
aku tetap tak bisa terpejam
011204
 
saat berdegup2
 
ramai sekali dini hari ini
semua timbul berkumpul
seperti ingin melepas rindu
dengan pelukan erat tak bisa dilepaskan
 
semua datang berhamburan
bagai katak dimusim hujan
meracau, dari setiap danau masa lampau
 
tertawa, entah jeritan tenggelam
tak bisa kubedakan
derum ingatan yang berlalu lalang
terlalu membisingkan
011204
 
saat berdegup3
tetap saja tak bisa kubungkam oleh tumpukan kelelahan
terus saja mengajakku berbincang
 
berhenti, tak bisa
meski berat dikepala
makin terasa melelahkan
bagai degup jantung saat ketakutan
 
terus saja mataku terbuka
melihat paras hati
yang kian pias bagai mati
 
hanya Engkau yang mengerti!
011204
 
titik1
 
keindahan itu ada
ketika ketulusan terus dihadirkan
ketenangan itu ada
ketika kepasrahan terus dihamparkan
dan kemenangan adalah
ketika kita bisa merebut diri sendiri
020304
 
titik2
 
cintaNya memang penuh rahasia
hingga kadang kita diberinya duka dan resah
agar hati tergugah
bahwa kita memang sangat lemah
dan menyadari
bahwa kita akan kembali padaNya
juga sendiri
161104
 
titik3
 
de, biar tangis itu seperti gerimis manis
yang menyiram tanaman2 harapan
 
biar dia jatuh, tanpa mengeluh
biar mengerti warna2 bumi
yang memang sering tak seiring hati
131104
skeptisme
 
di ujung jalan yang penuh iklan ini
ternyata hanya lengang
yang terbungkus lapang padang rerumputan
yang ternyata juga gersang
buntu, hanya ada dinding batu
penuh pahatan berantakan
gambar bunga, tanpa warna
matahari, tanpa cahaya
dan ratusan baris pribahasa
dari dendang para penggembala buta!
170904
 
biji ranting
 
relakah kau
untuk jadi biji2 yang tertimbun
dalam kegelapan berhamparan
tanah2 yang menindih tanpa perasaan
beban duka dan kesedihan
 
agar tumbuh jadi tunas tangguh
jadi tanaman kebaikan
yang melahirkan bunga
dan keharuman islam
 
atau kau hanya ingin jadi biji manja
yang tergolek diatas lantai bening kaca
karena tak ingin tersentuh noda
warna2 tanah dan luka
 
hingga hanya jadi biji kering
yang tak bisa jadi, walau sekedar ranting.
0504
 
diam
 
bersamaMu, ingin aku diam tak jemu
mengeja asma yang ku bisa
dengan hati dan rasa rindu
yang tak pernah bisa kudatangkan bersamaan
seperti gelap dan malam
 
bersamaMu, aku ingin bisa tetap diam
dalam luka dan senyum beragam
yang Kau berikan ditiap pemberhentian
tiap pagi atau petang
sampai Engkau menjemputku pulang.
100904
 
musim dingin
 
berjuang dalam keriangan para belalang
saat musim dingin datang
terinjak dalam kepasrahan telanjang
antara doa2 yang terbang
dari kubah resah panjang
makin meradang
 
di halaman mimpi harapan
kata2 bergetar berhamburan
setelah bertahun tertimbun
ribuan tulisan tarangkum
tanpa judul yang anggun
 
sebagian pintu memang tak kelihatan!
120104
 
lengang
 
kembali lagi bolong
keharumanpun jatuh terdorong
potongan keindahan pasrah digotong
sepotong demi sepotong
melepuh terbakar gosong
hanyut lagi, jadi kembali kosong!
210104
 
kulsum
 
kau hinggap, sekejap
dengan keharuman buram
yang terus merayap tanpa harap
menyentuh bibirku-nuraniku
hinggap rapat tak bergerak
 
runtuh, lepas dari tubuh
hanya bunyi gemuruh
mengayuh seluruh ingatan
kehulu waktu yang makin tak kelihatan
 
wajah sederhana
yang masih duduk diam, seperti dendam
menunggu gelap malam, untuk terbang
mencari sarang lebah, penyengat resah
 
masih terus pasrah
menunggu angin berbelok arah!
030904
 
di ujung rintik
 
bila memang akan kau ingkari
lebih baik kau keringkan saja
seluruh embun
yang telah terlanjur terbetik
keluar tergantung
 
aku terbiasa dengan segala terik siang
atau apapun, tanpa keberatan
karena cuaca yang telah tumbuh dewasa
dari puluhan perjalanan
ratusan kelengangan
siang malam pencarian!
030704
 
agnotis
 
aku kurang faham
atau mungkin bodoh
atau barangkali suatu kesadaran
atau kewajaran
 
bila kemudian aku meringis
karena terluka
atau lalu aku terbisu karena (memang) tak mampu
 
tapi aku tak akan mati
hingga aku dapat mencintai
bukan sekedar mendekati!
2001
 
 
 
Titik
 
Jangan pernah ada takut
Dengan smua raut hidup
 
Jangan ada gelisah singgah
Merebut mimpi yang sedang kau papah
 
Jangan peduli dengan smua gaduh yang menyentuh
Karena setiap daun yang tumbuh
Selalu siap untuk jatuh
010305
 
 
 
serak
 
dimana aku sembunyikan lagi
rimbun rerumputan
yang telah tumbuh
jadi pohon2 besar penuh akar
memenuhi petak sempit kesadaran
yang pernah kutemukan dipotongan kesadaran
 
ketika tanah kerontang
menceritakan semua kemalangan
begitu riang.
080304
 
episode
 
sisi2 jalan yang berpagar
penuh dipasang reklame bergambar
corak terang, gelap samar
menutupi seluruh celah gemuruh
setiap jengkal keinginan
yang makin terpantul, terpencil
ditrotoar tak beraspal
 
berulang mengerang ingin berpulang
dibungkusan sesal yang tak terbayar
berkurung murung yang telah tertimbun
080304
 
itu dunia
 
dekati, agar seluruh lekuknya kau kenali
setiap garis2 matanya
yang makin kerap berkedip, seperti koma2
 
mungkin cerita terlampau nyata
hingga banyak yang tak terlihat
karena begitu dekatnya
seperti kelopak matanya
300903
 
Selebaran
 
Sudah banyak kalimat yang terloncat
Yang tak bisa lagi kuterjemahkan
Dengan berbagai kelapangan untuk diam
 
Setiap hurup hanya jadi redup
Setiap koma seperti duka yang disengaja
 
Dan tak kutemukan lagi
Dilembar2 yang terhampar
Selain gambar diriku yang makin gemetar
220903
 
detak ini
 
sepanjang malam
hati seperti berputar- putar
seperti baling2 yang tersangkut akar
pasrah, atau mungkin kalah
 
karena seluruh isi sampanpun tumpah
terbawa arus halus gelombang keinginan
yang tak bisa kucegah
261003
 
surat malam
 
untuk siapa keresahan ini?
Melenggang hampir setiap petang
Menggedor semua karidor
Bagai peluru2 teror
 
Untuk siapa puisi2 itu?
Berserakan sepanjang ingatan
Menumpuk jadi sarang nyamuk
Karena genangan perasaan
Tak bisa lagi mengalir sopan
 
Kesejukan jadi seperti konsonan
Yang tak bisa dieja dengan sepenuh rasa
seperti buku2 cerita
tanpa ending nyata
281003
 
klise
 
dingin menusuk
melewati tulang dan rusuk
mengetuk dinding hati yang mulai lapuk
 
menebar kenangan yang telah diam
jadi lagi menggenang
jadi bayangan
yang bersatu dengan gelap dan terang
mengepak- melayang- melewati perbatasan
yang sengaja dipancang lebar
agar musim rela bertukar
130304
 
skat
 
jadilah lagi, kamar kecil ini sunyi lagi
tak ada yang tinggal, semua tanggal
setelah pintu dan jendela rontok
tersapu hasrat yang terpojok
 
akhirnya, kembali lagi
mencari sumber angina kemarin2
disetiap lembar daun2 kering, di sela tebing
untuk sekedar keharuman pengobat kerinduan
yang lama tersimpan di pot2 tanpa tanaman
0204
 
salam rindu
 
karena cinta, daun2 itu gugur
memenuhi panggilan kerinduan
yang lama dititipkan
ditiap tetes embun, di tiap daun
yang juga terus menjelaskan
arti warna2 ketulusan
 
pada tiap ranting kering, hening
 
setelah semua kesegaran terbawa terbang
beberapa hembusan keinginan
angin, burung
pepohonan, angan2
160304
 
teori
 
kapan diterapkan rumus
yang telah banyak terbungkus halus
dalam kardus berlabel khusus?
 
Panas di sebrang telah hampir membuatnya hangus
 
Tak adakah yang bisa mengirisnya
Lebih sederhana
Agar aku dapat membawanya
Pulang ke desa!
071203
 
 
 
 
 
gerhana
 
tertidur lagi aku dalam kelelahan
setelah malam tergelincir riskan
dalam kekalahan diam2
 
saat gerhana dan purnama berebutan
rembulan terjepit lagi
dalam hasrat dan kelemahan!
100404
 
siklus
 
tak ada yang bisa memaksanya turun
jadi seperti rintik hujan beruntun
jatuh memenuhi panggilan kekeringan
berbagai bidang manis
yang sangat romantis
 
karena debupun memang pasrah menunggu
karena samudra dan udara
telah menjanjikan kehidupan berikutnya
 
kembali di angkasa tanpa luka.
280304
 
fotosintesis
 
aku telah lupakan
namamu di surat2 harian
yang pernah selalu kutulis sepanjang lengang
kemudian kulempar ke tanah lapang
 
agar saat pagi kembali
mengganti sampulnya dengan warna segar
hijau daun, rerumputan harapan
 
yang pernah dititipkan ditiap goretan
cahaya matahari
280304
 
Janji
 
kita sepakat menyimpannya begitu saja
jadi lukisan yang terbentang
begitu saja
 
tergantung tanpa tali
atau bingkai sekedarnya
begitu saja
 
di angkasa dekat matahari
agar jadi pelangi saja
saat gerimis, saat kau menangis
begitu saja
140404
 
Utk ibu!
Ada yang ingin aku tuliskan
Tentang waktu yang berlalu diam
menumpuk jadi satu lembaran
Yang entah akan terbuang hilang
Atau sekedar bisa dikenang
 
Seperti hari yang cepat berganti
Telah sembunyi, bahkan mati
Tak akan bangkit lagi
Apalagi bernyanyi
 
Hanya esok dan setelahnya
Yang mungkin masih bisa kita sapa
Dengan bermacam harapan dan asa!
 
Ibu, andai dunia berputar
Kian gemetar
Semoga kita tetap berdiri tegar!
 
Andai siang tak bisa lagi terang
Semoga kita masih bisa tenang dan lapang
Dan andaipun malam
Tak didatangi lagi oleh rembulan
Semoga hati kita tetap jadi penerang setia
Yang tahan menerima semua luka!
 
Ibu..
Sungguh rasa pahit yang melilit
Tak akan mampu mengikat kita dalam rasa sempit
Bila kita mereguknya dalam cawan kepasrahan
Penuh warna kelapangan
Yang memang harus digoreskan berulang-ulang!
 
Karena duka seperti udara
Yang akan tetap ada
Selama kita ada
 
Semoga kita tak pernah putus asa!
2004
 
 
 
 
SENYUM TERPASUNG
 
Aku melaluinya seperti lembutnya rasa
Yang kadang harus tak menjerit
Demi berlangsungnya cerita
 
Aku meresapinya seperti udara
Yang juga pernah menawarkan nama nama
Para pencari pulau cahaya
 
Dalam dua belas bintang
Yang terhitung saat petang menjelang
Masih tampak engkau berdiri
Memohon matahari agar tak pergi
 
Hingga tanah yang engkau pijak retak
Dan jasadmu berserak harum, jadi bunga sekuntum
 
Dan kini aku ingin sekali menemuimu
Ayah!
02112002
 
ADA
 
Ada sesuatu dalam waktu
Yang tak terasa namun penuh gema
Ada banyak teka-teki
Yang tak bersuara namun penuh makna
 
Ada dimensi yang tak bisa ditemukan dengan berjalan
Tak biasa di cari walau dengan berlari
 
Ada keindahan yang hanya bisa didapatkan dengan diam
Dengan ketidak biasaan
Dengan keterasingan
Dengan kepasrahan
Dengan kesedihan
Bahkan kematian
 
Karena mutiara2 pun tersembunyi didasar lautan!
2003
 
 
Untuk para sahabat
 
Lebih dari setengah perjalanan
Dipadang ramadlan yang penuh rembulan
Berlalu dengan indah dan pelan
 
Apa yang telah kau dapat sahabat?
 
Apakah lapar yang kau temui telah mengajarkan padamu
Tentang kasih sayang yang makin jarang?
Tentang kebersamaam yang juga ikut tenggelam
Tertimpa berlapis kepentingan?
 
Apakah dia telah mengajarkanmu
Tentang arti kesabaran, makna keimanan?
Atau itu sekedar pemantas keadaan
Dan kemudian kau kenyang sepanjang malam?
 
Apakah dia juga telah memberitahumu
Kabar teman2, saudara2 seiman
Yang selalu melewatkan malam dijalan
Di bawah jembatan, di penampungan2
Dalam ikatan duka dan kelaparan?
Atau dia hanya mengajarkanmu menu2 makanan?
 
Sahabat tercintai…
Bila puasa itu sekedar dahaga
Sedang mulut dan mata masih terbuka bagai jendela
Menerima semua hembusan dan aroma
Dengan penuh suka
Lalu, kapan lencana takwa pantas diterima?
 
Dan bila ramadlan itu
Sekedar keriangan menjelang petang
Atau sekedar keletihan dan tidur yang makin panjang
Kenapa para sahabat nabi harus berbulan berdoa
Berharap dapat berjumpa
 
Sahabat, waktu kita tak tentu berulang..!
-Puasa1425H-
 
Ambivalen.
 
Terlalu kuat untuk kulepaskan
Apa yang telah terikat
Terajut jadi perasaan dan keinginan
Tanpa bentuk tanpa harapan
Apalagi kosong dari kerisauan
Aneka kemungkinan yang terus melayang-layang
 
Inikah keadaan seadanya itu?
Inikah perjalanan tanpa tujuan itu?
Inikah puisi2 para penyembah rasa itu?
 
Atau inikah awan2 utusan
Yang sengaj menggumpal kelam tersulam
Untuk memberitahuku
Bahwa matahari yang ku banggakan
Telah lama tenggelam!
 
Sungguh terasa risau, seperti meracau
Karena detik2 yang lentik telah terlampau cantik
Tarlalu manarik, hingga leherku tercekik
Membela nafas yang pernah meluas
Meretas lembah2 susah
Mencari padang bertuah
 
Lalu, seberapa bait lagi puisi ini ku tulis rapat?
Entah apa judulnya yang tepat
Tak jelas pula irama yang didapat
Awal dan akhir, sekedar jauh dan dekat
Intuisi, atau sekedar apresiasi pekat
Naluri yang terus terikat hasrat
 
Jauhnya parit yang tlah tergali
Dalamnya hampir menimbun hati!
0105
 
Hijrah
 
Setelah semua tertutup semak
Yang tiba2 tumbuh cepat
Disekitar pantulan2 bintang
Yang ditebarkan dalam setiap kemungkinan
Luang, namun tanpa warna riang
 
Aku sepertinya harus pergi
Dari kekisruhan ini
 
Harus sendiri, menghitung jarak
 harus ku lewati, walau dengan merangkak
050305
 
 dariku untukmu
 
Ada apa lagi teman?
Kenapa pulang pergi berulang-ulang?
Berlari- lari seperti ingin sembunyi
Atau sekedar mencari kepuasan diri?
 
Haruskah selalu menunggu gelap
Hingga semua jalan tak tampak
Lalu berharap bulan kembali hinggap?
 
Haruskah selalu menunggu duka tiba
Untuk kembali mengingatNya?
Haruskah menanti hidup kembali terbata- bata
Baru mencari jalan meminta padaNya?
 
Haruskah menunggu terus
 sampai nafas kita terputus?
Atau terus menanti
Sampai nadi kita berhenti?
 
Haruskah menunggu masa
Saat kaki kita bercerita
Tangan kita mengisahkan semua?
 
Haruskah menungu waktu
Sampai kita tak mungkin lagi bertemu?
 
Aku masih menunggumu!
120305
 
Amiin..
 
Kuatkan tangan ini
Memegang panji ini
Bukakan mata ini
Menatap jalan ini
Tajamkan telinga ini
Menerima seruan ini
 
Teguhkan hati ini
Bersama risalah ini
Tegakkan kepala ini
Bersama barisan ini
Tetapkan kaki ini
Bersama gerak ini
 
Biar jiwa ini
Mampu mencium bau surgawi
Dari bumi
Amiin!
120305
 
Basi
Kenapa lagi, begitu lagi
Selalu basa- basi
Dikedepankan jadi bak putri
Pengantin kekosongan
Di deretan keramaian panjang
 
Cepat katakan saja
Aku sudah pandai mengeja!
300205
Blank
Seluruh ingatan telah lusuh
Terjatuh dalam keinginan2 tak tersentuh
Hingga jadi sekedar debu
Yang hanya bisa menunggu
Hujan turun membawa arti kekosongan
Bersama daun- daun
Menyusun pantun- pantun anggun
1104
 
Dari titik
 
Belajar darimu
Bukan dari kata-kata itu
Dari mulutmu dan matamu
Bukan dari warna baju
 
Belajar dari keadaan saja
Bertahan dalam ketidakinginan
Diam dari dingin yang mengacaukan
 
Dalam detik dan titik
Yang berjalan lugu dan sopan
Namun penuh harapan
300205
 
Disini
 
Kau menungguku dimana?
Di ruas daun melatikah?
Atau sekedar duduk di batang keadaan
Yang makin rapuh oleh keadaan?
 
Kau mencariku dimana?
Di ruang para pendongengkah?
Atau sekedar berputar- putar
Di taman angan2 buram
Sambil memanggilku berulang?
 
Kau di mana?
300205
 
Afwan ukhti!
 
Tetap harus kutahan
Semua bunga yang makin mengembang
Rimbun, tumbuh beruntun
Membuat taman berlimpah
indah, namun tetap berdarah!
 
Biar kutahan saja
Semua bunga yang terus tumbuh ria
Tanpa sengaja!
 
Biar kusimpan tanpa harapan
Tanpa harus ada judul panjang
 
Biar hanya Pemilik senja
Yang mengetahuinya!
110305
 
Potret
 
Rebah lagi aku, dalam resah yang lugu
Keluh kesah tumpah berlimpah
Dari bejana2 petuah
Yang tak mampu lagi kuhias indah
 
Jari2ku tertekuk, tak bisa memeluk
Tangan2 hanya bisa meregang
Bak orang hampir tenggelam
 
Tengadah, pasrah
Terpejam, menghindari kelam
Yang datang makin telanjang
150205
 
Bukan prasasti
 
Aku ingin menemanimu
Mengeja setiap aksara2 di papan usia
Agar terbaca penuh makna, tak sekedar jeda
Antara alam sini dan sana
 
Aku ingin menemanimu, bukan dengan janji
Atau kata2 penuh puji
Yang bisa kutebar disetiap pojok hati
Dan pergi sesuka hati
 
Aku ingin menemanimu, sperti malam
Bertemu pagi, pergi dan kembali
Seperti air yang tak bisa dilukai
Walau tertusuk berulang kali
 
Seperti dahan menjaga dedaunan
Kemudian jatuh terlupakan
Hanya bersimpuh penuh
Agar bisa kembali tumbuh utuh teguh.
1104
 
Asongan
 
Itu busa yang menghisap semua sisa
Wacana yang tercecer dilantai tanpa alas
 
Serambi terminal kota pesona
Yang selalu penuh calon penumpang
Pencari ‘ketenangan’
 
Berjubel calo, mengecoh bak beo
Menirukan suara berbagai irama
Yang pernah mengalun
Selebar masa yang beruntun
Menjajakan ‘keselamatan’ tanpa penjelasan
170304
 
Temaram
 
Musim dingin berulang
Kenangan terpaksa kembali beterbangan
Tersapu kepak sayap
Para belalang ladang kesenangan
yang juga berusaha terus terbang
mengais sisa kenangan, tentang kemenangan
yang tetap terus terinjak, tanpa bisa teriak
 
diantara lampu redup terang
halaman mesjid nabi
makin malam, makin menggelisahkan
140404
 
Sungai mati
 
Sama sekali basi
 Tak bisa ditutup lagi
Terlalu berani menyanyikan janji
 
Hingga serasi yang disusun berribu hari
Terurai jadi angin sore lagi
 
Musim panas, tanpa hati
Mengiring lagi jadi sekedar bunyi
Angsa2 berlari!
190205
 
 
 
 
 
 
Proton
 
Kubiarkan debu2 terhirup
Hidungku yang menyentuh alas sujud
 penuh risau tanpa wujud
 
Biar jadi teman perjalanan nafasku
Melewati lilitan urat nadi
Yang telah jadi sumbu sepi
Diseluruh organ ketaatanku
 
Biar lusuhnya menyentuh dahiku
Membangunkan seluruh ingatan
Yang terus roboh tertimbun angan2!
200404
 
Puihhh!
 
Dimulai pagi ini lagi
Diterbangkan lagi
Menunggu ilham arah mimpi ditiupkan
 
Sebelum kembali terhirup
Dalam lubang balon
Terkurung warna tipis
Yang suka membawa tangis
 
 dipaksa menggelumbung
Oleh keadaan yang terus menguap
Terbakar sayap2
Terus menyala dalam senyap
240404
 
 
 
 
Cut!!!!
 
Siapapun yang akan kau pilih
Sepanjang jalan nanti
 
Takdir telah lebih mendahului
Malamarmu jadi pandampingnya yang sejati
 
Tanpa mahar, penuh saksi
Tanpa sadar, pasti terjadi!!
2005
 
 
 
Etika
 
Karena tak ingin hilang
Karena ada yang dilarang
Walau kukarang
Aku tetap tak jadi pulang
Ke sebrang lingkaran
 
Berhenti saja
Di pematang yang pasrah
Terlentang tanpa beban gelisah
 
Menulis kembali bait2 tipis
Yang terus meringis
Menyimpan teka- teki yang tak kunjung habis!
11104
 
Pesan dahan
 
Harus mendaki sedikit
Meninggalkan aroma dedaunan
Teh, cengkeh, dan rombongan2 riang
Yang berulang mengundang
 
Mendakilah lagi sedikit, melewati bukit
Yang pernah disapa saat kecil
Saat senang atau sulit
Saat menulis berhelai bait
Di deretan pohon2, tiap petang
Di sela suara adzan
 
Hijau daun, buram didahan
Ujung ranting, hamparan awan
Ketulusan yang terpilan
jangan terkelupas dari dahan
060304
 
Stagnasi
Masuk saja ke dalam celah2 basah
Digumpalan otakku
 Yang sarat syaraf kebingungan
Ketiadaan jawaban
Dalam kurungan cerita keadaan
 
Waktu tanpa judul baku
Makin basah
Tersiram limbah getah
Masuklah tanpa harus ada serapah!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s